Tentang Kami

Lima Puluh Kota kita kenal dengan masyarakatnya “yang ramah tamah dan setia, aianyo janiah, ikannyo jinak, sayaknyo landai, dalam nan indak tajangkau, dangka nan indak tasubarangi”. Nama Limo Puluh Kota diambil dari peristiwa  kedatangan 50 (Limapuluh ) rombongan yang datang  dari Pariangan Padang Panjang untuk mencari pemukiman baru di kaki Gunung Sago . Mereka berangkat dari Pariangan Padang Panjang, Sungai Jambu, Menuju Tabek Patah, Tanjuang Alam, Tungka, Bukik Junjuang Siriah, Bawah Burai, Aia Taganang, Padang Kubuang, Padang si Janti-janti, Lurah Pimpiang, Lurah Luak Kuntu, Lurah Basuduik, Lurah Sumua Sati, Lurah Jalan Binti, Ngalau dan sebagainya. Dalam perjalan rombongan menemui sebuah padang ribu-ribu  yang luas dan memutuskan bermalam di situ karena hari telah senja. Perkiraan tempat itu sekitar pasar ternak sekarang perbatasan Piladang dan Situjuah ) .

Pagi esok harinya, di waktu rombongan akan berpencar mencarai tempat yang baik untuk daerah pemukiman dan pertanian, diketahui telah berkurang lima rombongan. Setelah Tanya-bertanya kemana perginya yang kurang itu, semua yang menjawab mengatakan : antahlah!  Tempat itu sampai sekarang bernama Padang Siantah. Beberapa waktu kemudian baru diketahui, kelima rombongan  yang antahlah!  Itu menuju daerah Bangkinang ,Kuok, Air Tiris, Salo dan Rumbio. Selanjutnya rombongan yang tinggal 45 kelompok ini melanjutkan perjalanan dan akhirnya sampailah pada suatu tempat dekat Batang Agam yaitu Titian Aka dan Kumbuah Nan Bapayau, dan mereka berhenti dan disambut oleh niniak nan batigo yaitu : Rajo Panawa, Barabin Nasi, dan Jhino Katik rombongan yang telah lebih dahulu sampai di Payakumbuh.

Niniak nan batigo menerima baik kedatangan mereka. Dan dengan senang hati mempersilahkan memilih tempat yang layak untuk diolah jadi pemukiman, peladangan dan sawah. Untuk sama-sama teguh memegang buat sebelumnya diadakan musyawarah yang  diadakan di atas sebuah tanjung dekat air tabik, mereka berhimpun (berkumpul) di tanjung tersebut sehingga dinamai Tanjung tersebut dengan Tanjung Himpun ( masyarakat menyebutnya Tanjung Pun) Dan kemudian mereka membagi rombongan dan melanjutkan menuju arah yang mereka suka masing-masing tempat mereka berpisah dinamai dengan Labuah Basilang.